Skip ke Konten

Amerika dan Ilusi Ketertiban Dunia

Ketika Agresi Dipoles Menjadi Moralitas
24 Februari 2026 oleh
Amerika dan Ilusi Ketertiban Dunia
fajar ryanto
| Belum ada komentar


Ada satu kebohongan besar yang terus dipelihara dalam politik global modern: bahwa kekacauan dunia hari ini adalah akibat terlalu banyak aktor jahat, terlalu banyak konflik lokal, atau terlalu banyak kepentingan yang saling bertabrakan.


Dari luar lingkar kekuasaan, kebohongan itu mudah terbaca. Sumber utama kegaduhan global bukanlah aktor yang tak terlihat, melainkan satu negara yang terlalu lama merasa berhak menentukan nasib dunia: Amerika Serikat.


Tulisan ini tidak bermaksud membela Rusia, Tiongkok, atau kekuatan lain. Justru sebaliknya—ini adalah pembacaan jujur dari orang luar kekuasaan, yang melihat bagaimana agresi Amerika secara konsisten dibungkus dengan bahasa moral, lalu dijual sebagai ketertiban dunia.



Ketertiban Dunia yang Selalu Datang Bersama Bom


Setiap kali Amerika berbicara tentang ketertiban dunia, sejarah menunjukkan satu pola yang tak pernah berubah: ketertiban itu hampir selalu datang setelah bom dijatuhkan.


Irak 2003 menjadi contoh paling telanjang. Dunia dipaksa percaya bahwa perang perlu dilakukan demi mencegah kehancuran global. Hasilnya bukan stabilitas, melainkan negara yang hancur, jutaan korban sipil, dan lahirnya ekstremisme baru. Ketika kebohongan senjata pemusnah massal terbongkar, tidak ada permintaan maaf global, apalagi pertanggungjawaban hukum.


Dari luar, pesan yang diterima dunia jelas: Amerika boleh salah, tetapi tidak pernah bersalah.



Libya, atau Pelajaran tentang Negara yang Ditinggalkan


Libya dihancurkan atas nama kemanusiaan. Rezim dijatuhkan, pemimpin dibunuh, dan dunia Barat bertepuk tangan. Setelah itu? Amerika dan sekutunya pergi. Negara dibiarkan terpecah, tanpa institusi, tanpa arah, menjadi pusat perdagangan manusia dan senjata.


Jika ini yang disebut perlindungan sipil, maka kata itu kehilangan maknanya. Dari luar, Libya bukan kegagalan kebijakan—ia adalah bukti bahwa tujuan utama bukan stabilitas, melainkan kepentingan sesaat.


Moralitas yang Selalu Selektif


Amerika gemar mengajar dunia tentang demokrasi dan hak asasi manusia. Namun moralitas ini bekerja secara selektif. Pelanggaran HAM oleh sekutu sering diabaikan. Pelanggaran oleh lawan dijadikan alasan sanksi dan intervensi.


Venezuela adalah contoh nyata. Bertahun-tahun sanksi ekonomi dijatuhkan dengan dalih demokrasi. Yang hancur bukan elit penguasa, melainkan kehidupan rakyat biasa. Inflasi meroket, pangan langka, jutaan orang terpaksa pergi. Dari luar, ini bukan tekanan moral—ini hukuman kolektif.



Ketika Laut Internasional Bukan Lagi Milik Bersama


Penyitaan kapal tanker di laut internasional dengan dalih sanksi menunjukkan wajah lain dari ketertiban versi Amerika. Apa bedanya tindakan ini dengan pembegalan, selain fakta bahwa pelakunya negara adidaya dengan armada militer?


Jika hukum laut internasional bisa diabaikan demi kepentingan satu negara, maka laut tidak lagi menjadi ruang bersama. Ia berubah menjadi wilayah kekuasaan bagi yang paling kuat.


Elit Global: Dalih untuk Menyembunyikan Wajah Asli Kekuasaan


Istilah elit global sering dipakai untuk mengaburkan pelaku utama. Padahal sejarah mencatat dengan jelas: Amerika Latin diguncang kudeta yang didukung Washington, Timur Tengah porak-poranda oleh invasi dan intervensi, Asia menjadi ladang perang ideologi.


Ini bukan kerja entitas abstrak. Ini hasil kebijakan luar negeri yang nyata, terencana, dan berulang. Dari luar, Amerika bukan korban sistem global. Ia adalah aktor yang paling sering lolos dari konsekuensi.


Agresi sebagai Tanda Ketakutan


Sikap Amerika hari ini lebih tepat dibaca sebagai kepanikan, bukan kepercayaan diri. Dunia tidak lagi tunduk pada satu kutub. Dolar mulai ditantang. Aliansi alternatif bermunculan. Negara-negara Global South mulai berani mengambil jarak.


Alih-alih beradaptasi, Amerika memilih memaksa. Negara yang kuat membangun konsensus. Negara yang takut membangun tekanan.


Dunia yang Selalu Menanggung Biaya


Setiap agresi Amerika, langsung atau tidak, selalu dibayar oleh dunia:

  • harga energi melonjak
  • pangan makin mahal

Efeknya ekonomi negara berkembang terguncang.


Negara nonblok tidak pernah ikut memutuskan perang, tetapi selalu ikut menanggung akibatnya. Inilah ironi terbesar dari klaim penjaga stabilitas.



Preseden yang Membahayakan Semua


Ketika satu negara dibiarkan menangkap pemimpin negara lain, menyita aset lintas batas, dan memblokade ekonomi sebuah bangsa, dunia sedang belajar satu hal: hukum internasional hanya berlaku bagi yang lemah.


Hari ini targetnya Venezuela, Irak, atau Libya. Besok bisa siapa saja.


Semakin banyak bangsa mulai melihat Amerika tanpa filter moral yang selama ini dipaksakan. Ketertiban dunia yang dijanjikan ternyata rapuh, selektif, dan penuh kepentingan.


Selama agresi terus dipoles menjadi kebajikan, dunia tidak sedang menuju perdamaian, melainkan hidup dalam ketegangan permanen.

Bukan karena dunia kehabisan aturan, tetapi karena satu negara terus merasa dirinya berada di atas aturan itu sendiri.

di dalam Konspirasi
Amerika dan Ilusi Ketertiban Dunia
fajar ryanto 24 Februari 2026
Share
Label
Arsip
Masuk untuk meninggalkan komentar
Jack Wilson: Penjelajah Waktu dari Tahun 2035 yang Mengguncang Internet
Sosok misterius ini mengklaim bahwa dirinya berasal dari tahun 2035, dan datang ke masa kini dengan misi penting.